Bagaimana 'Hauntologi' Membuat Kita Tetap Tertarik Pada Serial Seperti Stranger Things?


Senin, 16 Februari 2026
Labels: , ,
Advertisement
Penghuni 60 | Bagaimana 'Hauntologi' Membuat Kita Tetap Tertarik Pada Serial Seperti Stranger Things?

Saat serial hit ini kembali untuk musim terakhirnya, seorang psikolog mengeksplorasi daya tarik psikologis dan filosofisnya.

Menurut Edward White: Untuk musim terakhir Stranger Things, jutaan penggemar akan terjun sekali lagi ke Upside Down untuk menyaksikan pertarungan epik melawan Vecna saat ia mengancam kota Hawkins - dan seluruh dunia. Tetapi apa yang memicu daya tarik kolektif kita terhadap alam semesta yang gelap dan penuh horor ini?

Baca Juga:

Bagaimana Hauntologi Membuat Kita Tetap Tertarik Pada Serial Seperti Stranger Things?
Stranger Things bahkan memiliki pementasan teater prekuel. (Kredit: Wiki / No Swan So Fine)


Jawabannya terletak pada prinsip-prinsip psikologis dan filosofis yang menjelaskan mengapa kita tertarik tidak hanya pada hiburan tetapi juga pada informasi. Memahami mengapa jutaan orang rela membenamkan diri dalam dunia Upside Down yang menakutkan mengungkapkan kebenaran mendalam tentang sifat manusia dan hubungan kita dengan rasa takut.

Dari kisah hantu hingga film dokumenter kejahatan nyata, obsesi kita terhadap hal-hal yang mengerikan berasal dari bias terhadap negativitas: kecenderungan untuk bereaksi lebih kuat terhadap informasi negatif daripada terhadap konten positif atau netral.

Bias negativitas ini berevolusi sebagai sistem peringatan - respons melawan atau lari kita terhadap ancaman. Saat ini, karena kita tidak lagi menghadapi harimau bertaring tajam, kewaspadaan ini telah berubah menjadi dorongan untuk mencari sensasi dan mengejar konten yang menakutkan karena rangsangannya yang intens.

Hal ini menjelaskan mengapa penonton secara bersamaan takut dan terpikat oleh adegan-adegan seperti kilas balik traumatis Eleven (Millie Bobby Brown) atau serangan brutal Demogorgon. Otak kita dirancang untuk merespons bahaya, bahkan dalam skenario fiktif.

Bagaimana Hauntologi Membuat Kita Tetap Tertarik Pada Serial Seperti Stranger Things?
Millie Bobby Brown - artis favorit saya - sebagai Eleven di Stranger Things. (Kredit: Netflix)


Penelitian dalam psikologi horor menunjukkan bahwa pencari sensasi secara aktif mengejar rangsangan negatif untuk meningkatkan rasa gembira mereka. Sementara itu, studi lintas budaya tentang rasa ingin tahu terhadap topik-topik morbid mengungkapkan bahwa daya tarik ini muncul di berbagai budaya manusia dan berakar pada mekanisme psikologis yang stabil daripada yang spesifik budaya.

Stranger Things dengan mahir memanfaatkan keempat dimensi rasa ingin tahu morbid kita: menjelajahi penjahat (seperti Vecna dan Dr. Brenner), menyaksikan kekerasan (dari makhluk Upside Down), mengalami kengerian tubuh (melalui infeksi Mind Flayer) dan menghadapi ancaman paranormal (yang menghantui Hawkins). Keterlibatan yang komprehensif ini menjelaskan daya tarik global yang sangat besar dari acara tersebut.

Penelitian neuroimaging yang menggunakan alat pemindai otak seperti pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI, yang melacak aliran darah dan aktivitas saraf secara real-time, menunjukkan bahwa mengamati konten yang mengganggu mengaktifkan sistem penghargaan otak.





Respons neurologis ini menjelaskan mengapa Stranger Things terasa sekaligus menakutkan dan sangat memuaskan - sistem penghargaan kita memperkuat manfaat psikologis dari menghadapi rasa takut melalui perwakilan fiksi, memungkinkan kita untuk melatih ketahanan emosional dan penilaian ancaman tanpa konsekuensi di dunia nyata.

Kerangka kerja hauntologi

Salah satu aspek populer dari Stranger Things adalah latarnya: Amerika tahun 1980-an. Pilihan ini menambahkan resonansi psikologis yang lebih dalam pada apa yang oleh filsuf Prancis Jacques Derriera disebut "hauntologi".

Hauntologi menyatakan bahwa kita semua "dihantui" oleh dua hantu. Yang pertama adalah kembalinya ke masa lalu sosial, gagasan bahwa keadaan lebih baik di masa lalu. Hantu kedua mewakili kerinduan akan masa depan yang menjanjikan penebusan dan keyakinan bahwa perubahan yang bermakna masih mungkin terjadi. Kedua hantu ini menciptakan kondisi yang berada di antara kehadiran dan ketidakhadiran, di mana jejak masa lalu yang belum terselesaikan terus menghantui dan membentuk masa kini.

Latar tahun 1980-an dalam Stranger Things berfungsi sebagai kembalian yang disengaja ke era yang diromantiskan, di mana masalah sosial, ekonomi, dan budaya yang belum terselesaikan dari masa lalu "menghantui" masa kini.

Bagaimana Hauntologi Membuat Kita Tetap Tertarik Pada Serial Seperti Stranger Things?
Gaten Matarazzo, Finn Wolfhard, Caleb McLaughlin dan Noah Schnapp di musim terakhir Stranger Things, mengingatku pada kisah-kisah Lima Sekawan. Persahabatan mereka memang unik. (Kredit: Netflix)


Kota Hawkins, tempat serial ini berlatar, digambarkan sebagai kota ideal dengan nilai-nilai tradisional dan stabilitas ekonomi. Namun di balik fasad ini, serial ini secara sistematis membongkar mitos kepolosan Amerika tahun 1980-an dengan mengungkapkan trauma psikologis yang tertanam dalam kehidupan pinggiran kota yang sempurna.

Misalnya, Upside Down (dimensi alternatif yang gelap dan membusuk yang mencerminkan dunia kita sendiri) berfungsi sebagai manifestasi psikologis dari apa yang oleh psikolog Carl Jung disebut sebagai "bayangan" - aspek-aspek kesadaran individu dan kolektif yang ditekan dan ditolak oleh masyarakat.

Laboratorium Hawkins, yang beroperasi secara rahasia di bawah permukaan kota, mewakili sisi gelap kemajuan ilmiah Amerika selama era Perang Dingin, di mana anak-anak menjadi subjek dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Pelecehan sistematis yang dialami Eleven di tangan Dr. Brenner (Matthew Modine) mengungkap bagaimana otoritas institusional dapat melanggengkan trauma antar generasi sambil mempertahankan fasad perawatan yang baik hati.

Pada akhirnya, Stranger Things sangat adiktif karena menyentuh berbagai lapisan psikologis sekaligus. Penggunaan cerdas serial ini terhadap bias negatif alami kita dan rasa ingin tahu tentang hal-hal yang mengerikan membuat penonton terpikat secara emosional sejak awal, sementara kerangka hauntologisnya menambahkan resonansi yang lebih dalam dengan mendorong kita untuk menghadapi trauma tersembunyi di balik kisah-kisah budaya favorit kita.

Perpaduan ini—di mana sinyal penghargaan otak kita bertemu dengan refleksi yang tulus—membantu menjelaskan mengapa begitu banyak dari kita terus kembali ke dunia Hawkins yang misterius. Hal ini hampir menjadi bentuk terapi bersama, memungkinkan kita untuk mengatasi ketakutan tentang pengkhianatan oleh institusi, luka masa kecil, dan kerusakan sosial melalui cerita-cerita supernatural yang terasa aman.

Dengan cara ini, Stranger Things menunjukkan bahwa kecintaan kita pada horor fiksi memiliki tujuan nyata: hal itu memungkinkan kita untuk melatih ketahanan sekaligus mengkritik sistem yang menciptakan kecemasan kita sehari-hari. Popularitas serial yang abadi menunjukkan bahwa penonton secara naluriah memahami fungsi ganda ini, mencari bukan hanya hiburan tetapi juga makna di dunia di mana batas antara monster dan kengerian sosial telah menjadi sangat kabur.

Jujur, saya sendiri salut dengan film ini, padahal saya mengetahui film ini belum terlalu lama, itu juga karena cuplikan-cuplikan film ini sering muncul di aplikasi Snack Video punya istri saya. Pada akhirnya saya pun tertarik dan menelusuri film ini dari episode awal season pertama.

Luar biasa, melihat di episode awal season pertama saja sudah membuat saya langsung penasaran, ingin terus menonton dan terus menonton sampai habis. Namun, karena kesibukan saya, saat ini saya baru mencapai Season 5 Episode 1. Saya sengaja juga menontonnya tidak secara maraton, biar menumbuhkan rasa penasaran saya.

Bagaimana dengan kalian, apakah sudah menonton film ini sampai habis? Silahkan tuliskan pendapat Sobat Penghuni 60 di kolom komentar.

*******

Thanks
Penghuni 60
Penghuni 60

Artikel Menarik Lainnya:




FOLLOW and JOIN to Get Update!

Advertisement

80 comments:

  1. Saya tinggal episode terakhir aja yang belum nonton mas... film ini emang menegangkan.

    BalasHapus
  2. Seru dan menarik kayanya Filmnya Mas... Meski saya belum pernah menonton dari awal.😁

    BalasHapus
  3. Uncle hanya nonton strangers things season pertama... yang seterusnya belum lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kurang seru Uncle... harus sampai tamat. Episode menjelang akhir yang paling seru.

      Hapus
  4. Saya sudah habis tonton, waktu ia mula masuk, bagi season finale. Sebelum keluar season finale, saya marathon dulu dari season 1, untuk refresh memory. Siri kegemaran saya, sebab tahun 80an. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, marathon teruuus... penasaran ya mbak kalo belum selesai. Sekarang saya baru sampai episode kedua season 5... memang betul, tahun80an memang byk hal-hal yang menarik. 😊

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. A mi me gusto esa serie. Te mando un beso.

    BalasHapus
  7. Bonjour
    Merci de votre passage sur mon blog
    Bonne journée
    Garou-Créations

    BalasHapus
  8. Jadi kayak memutar waktu mas. Refresh Memory...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti itulah kira2 mengapa saya betah menontonnya mungkin karena daya tarik latar belakang tahun 1980-an itu, yg mana membuat kita merindukan suasana saat itu. Ditambah lg sy suka horor, makin klop deh...

      Hapus
  9. Não conhecia fiquei curiosa, Penghuni feliz terça-feira abraços.

    BalasHapus
  10. rekomended ya mas film ini, gw belom permah nonton, dari ratingnya emang bagus sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg suka genre horor dibalut dgn karakter superhero wajib nonton film ini.

      Hapus
  11. I only watched the first season! I was hooked on Fallout though :-D

    BalasHapus
  12. Wishing you wonderful week ahead, dear Penghuni!

    BalasHapus
  13. Balasan
    1. How are you, Linda? I hope you are always healthy.

      Hapus
  14. Belum nonton nih, kebetulan takut juga sih nonton yang begini bro. Tapi karena ada unsur superheronya mungkin bisa gue coba dulu. Nice refrence bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Superhero, supernatural, dan alien. Kisahnya penuh makna: keluarga, persahabatan, dan tentunya cinta. Komplit deh pokoknya...

      Hapus
  15. aku belum nonton samasekali serial ini mas.... padahal sukaaa sebenarnya dengan horror.. cuma krn list drakor ku masih banyak aja, makanya yg western punya blm masuk list... baca ini jadi penasaran ^o^... seseram dan seseru apa.

    tapi memang horor itu nagiiih sih... seram, talut, tapi tetap aja ditonton... :D. kayak macam puas selesai nonton. dan efeknya juga lama.... kdg masih takut sampe beberapa hari ke depan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, harus nonton mbak.. seru banget, apalagi ceritanya dimulai dari para aktornya msh kecil hingga dewasa. Jadi berasa nyata gitu. Bayangin aja film ini digarap hampir 10 tahun lamanya... pokoknya nonton film ini akan berasa nano-nano, perasaan kita akan dibawa campur aduk, ada horor, takut, menegangkan, kekeluargaan, persahabatan, cinta, petualangan. Komplit banget... apalagi endingnya yg tetep bikin kita penasaran dengan nasib pemeran utamanya.

      Hapus
    2. Dan malam kemarin, sudah tamat aku tonton semua. Tetep aja, masih dibikin penasaran. Karena endingnya dibikin ambigu...

      Hapus
  16. To be honest, I'haven't seen this serie yet. Thanks for sharing.

    Best regards

    BalasHapus
  17. Douce nuit
    J'espère que tu vas bien
    Byzz de moi*

    BalasHapus
  18. jujurnya saya tak pernah tonton series ni. tp sy tahu ia dapat sambutan yg menggalakan daripada penonton hingga wujud fans tersendiri

    BalasHapus
  19. aku belum nonton ini karena serial ya. tapi kalau serial tapi bagus sih pasti aku bela-belain buat nonton sih ini asal jangan kayak jigsaw atau final destination aja bikin trauma nontonnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang aja mas Stranger Things gak sebrutal itu. Karena pemerannya jg dimulai dr usia anak2 hingga mereka beranjak dewasa.

      Hapus
  20. Stranger Things, saya malah belum pernah nonton film ini.

    Dua hantu yang sangat menakutkan, tapi kalau disuruh memilih, saya memilih hantu yang pertama, kembali ke masa lalu dan akan saya ubah dunia..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo saya sih lbh milih ke masa depan aja mas... masa lalu sudah tinggalkan saja, tp saya pengen liat ada apa di masa dpn.. 😁

      Hapus
  21. Analisis soal hauntologi dan bagaimana hal itu bikin kita tetap tertarik pada serial seperti Stranger Things sangat menarik. Cara penulis menjelaskan hubungan antara nostalgia, memori, dan daya tarik cerita benar-benar bikin ikut berpikir lebih dalam tentang kenapa kita suka genre seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg dimaksud penulis blog ini atau penulis filmnya nih?
      Kalo sy salut dgn penulis cerita film ini, ceritanya memang tdk beralur lurus. Terkadang alurnya itu flashback. Bahkan sy sendiri sampe terkejut begitu mengetahui "seperti itu toh awal mulanya?"

      Hapus
  22. Saya blum pernah nonton mas. Nganu, takut ntar malem2 kebayang-bayang hahahahaha.

    Nonton horor tuh kayak sambel. udah tau ada efek negatifnya ,tapi nagihhh wkwk

    BalasHapus
  23. Itu pemeran utamanya yg jd Enola Holmes kan ya?

    BalasHapus
  24. Aku belom pernah nonton filmya, apalagi serial gitu pasti lumayan banyak ya, tapi kalo penyuka film horor pastinya sih menarik banget, aku cuman sesekali aja nonton film horor, cukup menegangkan sih, udahnya kebawa mimpi wkwkk

    BalasHapus
  25. hola
    no soy de series así que poco puedo opinar,
    besotesssssssssssssss

    BalasHapus
  26. ¡Hola! Me encanta Stranger Things. Un abrazo ❤️

    BalasHapus
  27. Wah aku belum pernah nonton film ini sih. Rekomen kan ya? Ntar deh nonton pas libur lebaran 🤔.

    BalasHapus
  28. Reviuew film, dari dulu konsisten menulis. Salut sekali dengan konsistennya abang dalam menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mksh Sobat Martin.. pa kbr? Semoga sehat selalu.. 👍 msh ngeblog jg kan?

      Hapus
    2. Alhamdulilah masih mas, cuma tidak seaktif dulu lagi. Beh saya lihat teman-teman blogger ne, masih pada rame ngeblog, saya kira platffon ini sudah koit mas hehhee ternyata blog di tahun 2026 tidak pernah padam. Semangat terus mas bro. Jangan seperti saya yang kadang ada, kadang tiada hehee

      Hapus
    3. Kayaknya mas Martin fokusnya ke bikin konten di Yutub dan Tik-Tok ya? hehe.. lagi musim sih tmn2 ngeblog jadinya fokus di Yutub.

      Hapus
    4. Hehehe, pernah coba mas, tetapi tidak bisa konsisten karena banyak hal di dunia nyata membutuhkan perhatian lebih mas.

      Hapus
    5. Saya paham, pekerjaan mengajar pastilah sibuk. Sama kyk saya jg kesibukan di dunia nyata lbh byk dibandingkan di dunia maya. Makanya kadang update cm bs sebulan sekali. Yg jls dunia blogger gak akan saya tinggalkan mas... Karena menulis itu udh hobi saya.

      Hapus
    6. BTW udh sy subscribe channel yutubnya mas Martin. 😉 berharap dpt subscribe balik... hehe... sy jg punya channel yutub loh... kalo Tik tok sy gak punya.

      Hapus
  29. merci bonsoir une bonne nuit a demain jeudi bisous

    BalasHapus
  30. Aku cuma nonton stranger things season 1 doang mas, selanjutnya belum nonton lagi , sepertinya seru ya.

    Emang sekarang season berapa mas? Apakah season 4?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skrg season 5 mas... sebagai penutup. Seru bgt loh.. sampe endingnya aja msh ttp bikin penasaran. Pengennya sih ada season 6 gitu...

      Hapus
  31. Thanks for the series recommendation, greetings

    BalasHapus
  32. Menurut saya topik seperti ini memang menarik, karena banyak orang tanpa sadar merasa tertarik dengan hal-hal yang bernuansa nostalgia. Kadang sesuatu dari masa lalu justru terasa lebih berkesan dan membuat kita ingin melihat atau merasakannya lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, mungkin ada daya tarik tersendiri dari nuansa masa lalu.

      Hapus
  33. Aku suka stranger things karena suasana tahun 80an nya mas

    BalasHapus

Berkomentarlah yang baik dan sopan. Dilarang meninggalkan jejak link hidup maupun iklan promosi di kolom komentar. Silahkan hubungi Admin jika ingin bekerjasama dalam hal iklan. Terima kasih.